Sapta Cita KOPRI Jawa Barat Jadi Peta Jalan Baru Gerakan Perempuan Nahdliyin

KOPRI.ID - Gerakan perempuan muda di Jawa Barat tengah memasuki babak baru. Di tengah derasnya arus digitalisasi, krisis sosial, hingga meningkatnya tantangan terhadap perempuan, Korps PMII Putri (KOPRI) PKC PMII Jawa Barat memilih tidak tinggal diam.

Melalui gagasan besar bertajuk Sapta Cita KOPRI Jawa Barat, organisasi ini menegaskan arah perjuangan baru yang lebih progresif, terstruktur, dan menyentuh realitas masyarakat.

Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Barat, Anisa Nurhopipah Disastra, menegaskan bahwa gerakan perempuan hari ini tidak cukup hanya berhenti pada slogan, seremoni, atau romantisme organisasi. Menurutnya, perubahan zaman menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya.

Mulai dari ketimpangan pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, eksploitasi media digital, krisis moral, hingga lunturnya arah ideologi menjadi persoalan nyata yang membutuhkan langkah konkret. Karena itu, KOPRI Jawa Barat ingin memastikan bahwa organisasi hadir bukan sekadar sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai motor transformasi sosial.

Dalam pidatonya, Anisa menekankan bahwa penguatan ideologi menjadi fondasi penting dalam membangun gerakan perempuan yang kokoh. Ia menilai, derasnya budaya instan dan pragmatisme membuat banyak organisasi kehilangan arah perjuangan.

Menurutnya, organisasi tanpa ideologi hanya akan mudah terbawa arus zaman tanpa memiliki tujuan yang jelas. Karena itu, KOPRI Jawa Barat ingin membangun kader perempuan yang tidak hanya aktif berbicara di forum-forum intelektual, tetapi juga memiliki keberpihakan sosial yang nyata.

Kader perempuan PMII diharapkan mampu membaca persoalan masyarakat secara kritis, namun tetap berpijak pada nilai spiritualitas, etika, dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi identitas gerakan.

“Gerakan perempuan tidak boleh kehilangan ruh perjuangan,” menjadi semangat besar yang terus digaungkan dalam arah baru KOPRI Jawa Barat.

Sapta Cita KOPRI Jawa Barat

Melalui Sapta Cita KOPRI Jawa Barat, kaderisasi ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun generasi perempuan masa depan. Kaderisasi tidak lagi dipandang sebagai agenda rutin organisasi semata, tetapi sebagai proses membentuk karakter, mentalitas, dan kualitas kepemimpinan perempuan muda.

KOPRI Jawa Barat ingin melahirkan kader yang:

1. Kuat secara intelektual,

2. Matang dalam spiritualitas,

3. Tangguh menghadapi perubahan sosial,

4. Dan berani mengambil peran strategis di ruang publik.

Bagi organisasi ini, kader bukan hanya pelengkap struktur kepengurusan. Kader adalah agen perubahan yang harus mampu hadir di tengah masyarakat dan memberi dampak nyata.

Di era digital saat ini, penguatan literasi juga menjadi perhatian serius. Tradisi membaca, riset, diskusi, hingga pengembangan gagasan dianggap penting agar kader perempuan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pemikiran yang mampu memengaruhi perubahan sosial.

Tilu Pilar Kawani Jadi Arah Baru Gerakan

Sebagai langkah strategis, KOPRI Jawa Barat turut memperkenalkan konsep Tilu Pilar Kawani. Konsep ini menjadi karakter utama kader perempuan PMII Jawa Barat yang menekankan tiga nilai penting: inisiatif, kepedulian, dan inklusivitas.

Perempuan kader didorong menjadi pelopor solusi di tengah masyarakat, penggerak solidaritas sosial, sekaligus penghubung harapan bagi kelompok yang termarginalkan.

Menurut KOPRI Jawa Barat, sikap inisiatif menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat. Sementara kepedulian dibutuhkan agar gerakan perempuan tetap memiliki sentuhan kemanusiaan dan tidak kehilangan empati sosial.

Adapun nilai inklusivitas menjadi jawaban atas keberagaman masyarakat modern. Kader perempuan dituntut mampu merangkul berbagai kelompok tanpa kehilangan prinsip perjuangan.

KOPRI Jawa Barat Ingin Turun Langsung ke Tengah Masyarakat

KOPRI Jawa Barat menegaskan bahwa organisasi tidak boleh berhenti hanya di ruang seminar atau forum diskusi intelektual. Gagasan yang tidak diwujudkan dalam aksi nyata dinilai hanya akan menjadi arsip tanpa dampak.

Karena itu, organisasi ini ingin memastikan kader perempuan hadir langsung dalam berbagai persoalan sosial masyarakat, mulai dari:

1. Advokasi perempuan,

2. Edukasi generasi muda,

3. Pendampingan korban ketidakadilan,

4. Penguatan kesadaran sosial di akar rumput.

Gerakan perempuan, menurut Anisa, harus mampu menjawab persoalan konkret seperti kekerasan terhadap perempuan, kemiskinan, kesehatan mental, krisis pendidikan, hingga eksploitasi digital yang kini semakin marak terjadi.

“KOPRI harus hidup, bergerak, dan berdampak,” menjadi penegasan kuat bahwa organisasi ini ingin keluar dari jebakan aktivitas seremonial semata.

Menyalakan Wajah Baru Gerakan Perempuan Muda

Sapta Cita KOPRI Jawa Barat menjadi simbol lahirnya wajah baru gerakan perempuan muda yang lebih kritis, progresif, dan membumi. Gerakan ini ingin menghadirkan perempuan yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga teduh dalam bersikap dan berani memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kepentingan politik pencitraan, KOPRI Jawa Barat mencoba menghidupkan kembali tradisi gerakan yang lahir dari keberanian berpikir, keikhlasan mengabdi, dan keberpihakan sosial.

Sebab sejarah, pada akhirnya, selalu ditulis oleh mereka yang berani turun ke lapangan dan bekerja nyata untuk perubahan, bukan hanya mereka yang pandai berbicara di atas podium.**