Stigma “Mokondo”: Label Patriarkal yang Mengabaikan Realitas dan Membebani Laki-laki
Ditulis Oleh : Dwi Putri (Sekretaris Bidang Kesehatan Kopri PB PMII & Mahasiswa Magister Psikologi UI)
Ada rasa prihatin sekaligus gelisah ketika melihat bagaimana laki-laki dewasa yang sedang tidak bekerja (bahkan yang memiliki pacar atau istri) dengan mudah dilabeli “mokondo” di media sosial. Istilah yang sering muncul dalam komentar, meme, dan tren “roasting” ini tidak lagi sekadar candaan, melainkan telah berubah menjadi bentuk penilaian sosial yang merendahkan. Ironisnya, label tersebut digunakan tanpa memahami kondisi nyata yang dihadapi individu, seolah-olah tidak bekerja selalu identik dengan kemalasan atau ketidakmampuan.
Di satu sisi, sebagian masyarakat menganggap bahwa labeling seperti “mokondo” diperlukan sebagai bentuk kontrol sosial agar laki-laki terdorong untuk bekerja dan memenuhi tanggung jawab ekonomi. Tekanan sosial dianggap mampu memotivasi individu untuk lebih produktif dan tidak bergantung pada pasangan. Namun, pandangan ini terlalu menyederhanakan persoalan dan mengabaikan faktor-faktor struktural yang memengaruhi pengangguran. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa stigma “mokondo” tidak dapat dibenarkan karena merupakan bentuk labeling dalam budaya patriarki yang mereduksi nilai laki-laki pada status pekerjaan, mengabaikan kompleksitas struktural seperti gelombang PHK dan keterbatasan pasar kerja, serta berdampak negatif terhadap kesehatan mental individu—meskipun sebagian orang mengklaim bahwa tekanan sosial tersebut dapat memotivasi, kenyataannya justru lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat.
Pertama, stigma “mokondo” mengabaikan faktor struktural di balik pengangguran. Dalam realitas ekonomi modern, tidak semua individu memiliki kontrol penuh atas status pekerjaannya. Gelombang PHK, ketimpangan antara jumlah tenaga kerja dan lapangan pekerjaan, serta perubahan kebutuhan industri merupakan faktor yang signifikan. (Jennie E. Brand, 2015) menegaskan bahwa kehilangan pekerjaan sering kali disebabkan oleh dinamika struktural, bukan semata kegagalan individu. Selain itu, (McKee-Ryan et al., 2005)menunjukkan bahwa kondisi pengangguran dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk situasi ekonomi makro. Dengan demikian, pelabelan seperti “mokondo” mencerminkan praktik blaming the victim, karena menyederhanakan persoalan kompleks menjadi kesalahan individu semata.
Kedua, label ini memperkuat konstruksi patriarki yang mengikat nilai laki-laki pada peran sebagai pencari nafkah utama. Dalam konsep maskulinitas hegemonik, (Connell, 2005) menjelaskan bahwa laki-laki diharapkan memenuhi standar tertentu untuk diakui secara sosial, terutama dalam hal kemampuan ekonomi.
Ketika standar tersebut tidak terpenuhi, laki-laki dianggap gagal. (Vandello & Bosson, 2013) menyebut fenomena ini sebagai precarious manhood, di mana status maskulinitas harus terus dibuktikan dan mudah runtuh. Akibatnya, label “mokondo” tidak hanya merendahkan individu, tetapi juga melanggengkan standar ganda gender di mana perempuan yang tidak bekerja tidak mengalami stigma sosial sekeras laki-laki.
Ketiga, stigma ini berdampak signifikan terhadap kesehatan mental. (Paul & Moser, 2009) menemukan bahwa pengangguran memiliki hubungan kuat dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan. Lebih jauh, (Oexle & Corrigan, 2018) menjelaskan bahwa stigma sosial dapat menyebabkan self-stigma, di mana individu menginternalisasi label negatif yang diberikan masyarakat. Dalam konteks ini, ejekan seperti “mokondo” dapat menurunkan harga diri, meningkatkan tekanan psikologis, dan bahkan menghambat individu untuk kembali mencari pekerjaan karena rasa malu atau kehilangan kepercayaan diri.
Namun demikian, terdapat sudut pandang yang berlawanan yang menyatakan bahwa tekanan sosial, termasuk labeling negatif, dapat menjadi motivasi bagi individu untuk berubah. Dalam perspektif ini, stigma dianggap sebagai alat untuk menegakkan norma sosial dan mendorong tanggung jawab individu, terutama dalam konteks peran laki-laki sebagai pencari nafkah.
Meskipun argumentasi tersebut tampak logis, terdapat beberapa kelemahan penting. Pertama, penelitian tentang tekanan sosial sering kali tidak mempertimbangkan variabel pengganggu (confounding variables) seperti kondisi ekonomi, akses pendidikan, dan peluang kerja yang tersedia. Kedua, pendekatan ini cenderung mengabaikan bukti empiris yang menunjukkan bahwa stigma memiliki dampak negatif terhadap kesejahteraan individu. (McKee-Ryan et al., 2005) menegaskan bahwa dukungan sosial justru lebih efektif dalam membantu individu keluar dari pengangguran dibanding tekanan negatif. Selain itu, (Oexle & Corrigan, 2018) menunjukkan bahwa stigma cenderung memperburuk kondisi psikologis dan menghambat pemulihan. Oleh karena itu, klaim bahwa labeling seperti “mokondo” dapat memotivasi individu tidak didukung oleh bukti yang kuat dan justru berpotensi memperparah masalah.
Pada akhirnya, stigma “mokondo” bukan sekadar candaan internet, melainkan refleksi dari budaya patriarki yang mereduksi nilai laki-laki menjadi status pekerjaan. Label ini mengabaikan faktor struktural pengangguran, memperkuat konstruksi gender yang merugikan, dan berdampak negatif terhadap kesehatan mental. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang dan bahasa yang digunakan, terutama di ruang digital. Alih-alih menghakimi, pendekatan yang lebih empatik dan berbasis pemahaman struktural harus dikedepankan. Selain itu, diperlukan dukungan sistemik seperti kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif dan peningkatan kesadaran kesehatan mental, agar individu yang terdampak tidak semakin terpinggirkan oleh stigma sosial.
Daftar Pustaka
Connell, R. W. (2005). MASCULINITIES: THE FIELD OF KNOWLEDGE. Configuring Masculinity in Theory and Literary Practice, 2, 39–51. https://doi.org/https://remote-lib.ui.ac.id:2075/10.1163/9789004299009_004
Jennie E. Brand. (2015). The Far-Reaching Impact of Job Loss and Unemployment. Annual Review of Sociology, (41), 359–375. https://doi.org/doi:10.1146/annurev-soc-071913-043237
McKee-Ryan, F. M., Song, Z., Wanberg, C. R., & Kinicki, A. J. (2005). Psychological and physical well-being during unemployment: A meta-analytic study. Journal of Applied Psychology, 90(1), 53–76. https://doi.org/10.1037/0021-9010.90.1.53
Oexle, N., & Corrigan, P. W. (2018). Understanding mental illness stigma toward persons with multiple stigmatized conditions: Implications of intersectionality theory. Psychiatric Services, 69(5), 587–589. https://doi.org/10.1176/appi.ps.201700312
Paul, K. I., & Moser, K. (2009). Unemployment impairs mental health: Meta-analyses. Journal of Vocational Behavior, 74(3), 264–282. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2009.01.001
Vandello, J. A., & Bosson, J. K. (2013). Hard won and easily lost: A review and synthesis of theory and research on precarious manhood. Psychology of Men and Masculinity, 14(2), 101–113. https://doi.org/10.1037/a0029826