Nestapa Perempuan dan Anak dalam Pusaran Konflik Iran-Amerika Serikat

“Ketika rudal-rudal berjatuhan di langit Teheran, yang hancur bukan hanya gedung dan jalan raya tetapi masa depan anak-anak perempuan yang tak pernah memilih untuk lahir di tengah perang.”

Oleh: Siti Mahmudah, Pengurus Harian Bidang Media, Komunikasi dan Informasi KOPRI PB PMII Masa Khidmat 2024-2027

KOPRI.ID - Saat ini, dunia sedang menahan napas sambil sesekali menghela napas menyaksikan bara api yang kembali menyala di Timur Tengah. Isu perang antara Iran dan Amerika Serikat bukan lagi sekadar prediksi pengamat geopolitik, melainkan realitas berdarah yang memenuhi beranda media sosial kita setiap harinya. Sejak Operasi Epic Fury diluncurkan pada akhir Februari 2026, langit Teheran dan Minab yang biasanya tenang, kini dipenuhi oleh kilatan rudal dan raungan jet tempur. 

Operasi Epic Fury adalah nama sandi untuk operasi militer besar-besaran yang digencarkan oleh Amerika Serikat dan koalisinya (melibatkan Israel) terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Namun, di balik manuver militer yang dingin, terdapat realitas yang jauh lebih rapuh, yaitu masa depan perempuan dan anak-anak Iran yang kini berada di ujung tanduk.

Bagi kita yang berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip Wasathiyah (moderat), perang bukan sekadar debat geopolitik. Perang merupakan krisis moralitas yang menghancurkan kelompok paling rentan. 

Laporan dari Al Jazeera baru-baru ini membabarkan pemandangan memilukan di balik reruntuhan sekolah yang hancur, kita tidak hanya melihat beton yang luluh lantak, tetapi kita menyaksikan impian generasi penerus yang dikubur hidup-hidup. Pada hari pertama serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, terhitung ada 200 anak perempuan yang tewas menurut laporan resmi Kedutaan Besar Iran. 

Salah satu potret paling mengenaskan diantaranya, hancurnya Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di kota Minab. Seirama, menurut data yang dirilis oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebanyak 165 anak perempuan dan tenaga pendidik gugur seketika akibat serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Tas sekolah yang berlumuran darah di antara puing-puing bangunan menjadi saksi betapa mahalnya harga sebuah kekuasaan.

Dalam perspektif Islam, anak adalah titipan dari Allah SWT yang wajib dilindungi, dijaga dan dirawat (hifzun nasl). Menjadikan sekolah sebagai area konflik adalah pengkhianatan terhadap martabat kemanusiaan. BBC World juga melaporkan bahwa jutaan anak di Iran selatan kini kehilangan akses pendidikan total, menciptakan lubang besar dalam sejarah intelektual bangsa tersebut. Anak-anak yang selamat saat ini menghadapi trauma akut atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) massal. Simpelnya, PTSD adalah luka batin yang tertinggal setelah seseorang mengalami kejadian yang sangat menakutkan.



Dampaknya, pada anak-anak, trauma ini mengganggu perkembangan otak sehingga mereka kehilangan kemampuan fokus untuk belajar, sering mengalami mimpi buruk yang traumatis, dan terjebak dalam ketakutan kronis terhadap suara keras yang dianggap sebagai ledakan rudal. Sementara bagi perempuan, PTSD sering kali hadir dalam bentuk kecemasan akut, isolasi sosial, dan keluhan fisik kronis yang menghambat peran mereka.

Sebagaimana diketahui bersama, perempuan Iran hari ini menghadapi musuh dari dua arah. Secara eksternal, mereka dihantui oleh agresi militer. Secara domestik, mereka terjepit dalam ketidakpastian politik pasca-runtuhnya kepemimpinan nasional di Teheran. 

Reuters menyoroti krisis kesehatan yang darurat, antara lain seperti rumah sakit lumpuh total akibat pemadaman listrik, menyebabkan ibu-ibu yang tengah berjuang dalam persalinan berada di ujung maut karena ketiadaan alat pacu jantung dan inkubator yang berfungsi.

Lebih jauh lagi, banyak perempuan kini harus memikul beban sebagai kepala keluarga. Di tengah inflasi yang meroket dan kelangkaan logistik akibat penutupan jalur perdagangan Selat Hormuz, seperti yang paparkan oleh The Guardian bahwa bertahan hidup menjadi perjuangan heroik. Perempuan bukan sekadar kerusakan tambahan atau collateral damage. Mereka adalah elemen kunci pertahanan keluarga yang kini sedang dipaksa berhenti berdenyut oleh desing peluru.

Tentu saja, kita tidak boleh menjadi penonton yang abai. Kita harus berada dalam barisan Iran atas nama kemanusiaan. Bahwa apa yang terjadi dalam pusaran perang Iran-Amerika Serikat ini bukan sekadar insiden militer, melainkan bentuk nyata pelanggaran terhadap hukum internasional. Penyerangan yang menyasar wilayah padat penduduk, sekolah, dan fasilitas medis bertentangan dengan Konvensi Jenewa 1949 yang menjunjung tinggi perlindungan warga sipil di masa perang. 

Kekuatan militer yang tidak proporsional ini telah menginjak-injak hak asasi manusia paling mendasar. Sejarah mungkin akan mencatat siapa yang memenangkan pertempuran di Selat Hormuz, namun sejarah yang lebih jujur akan mencatat isak tangis seorang ibu di pemakaman massal. 

Sebagai warga dunia, kita mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional agar segera membuka koridor kemanusiaan, memastikan bantuan medis dan pangan sampai ke tangan yang membutuhkan.