Darurat Sampah di Tubuh Bumi dan Tubuh Perempuan

Ditulis oleh: Dianti Sani Arham Mutmainah (Anggota Biro Studi Lingkungan Hidup)

Krisis sampah di Indonesia bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan krisis yang menerobos hingga ke tubuh perempuan dan tubuh bumi.

Setiap plastik yang tak terkelola, setiap sampah yang dibakar atau dibuang ke sungai, meninggalkan beban ekologis bumi sekaligus menambah risiko kesehatan dan sosial yang sebagian besar menyasar tubuh perempuan.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa darurat sampah bukanlah isu teknis semata, melainkan persoalan keadilan yang menuntut tanggung jawab bersama.

Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap 21 Februari bukan sekadar momentum seremoni tahunan. Peringatan ini sebagai alarm kolektif bagi kita semua, setelah tragedi longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, yang menewaskan lebih dari 150 jiwa akibat ledakan gas metana, juga sebagai pengingat pahit bahwa pengelolaan sampah yang abai dapat berujung pada bencana kemanusiaan.

Hingga hari ini, kondisi di Indonesia masih menunjukkan darurat sampah. Tumpukan sampah di TPA terus menggunung, pencemaran plastik di laut semakin masif, dan sampah rumah tangga yang tidak terpilah bercampur tanpa penanganan sistematis.

Ironisnya, kerap luput dari pembicaraan publik adalah fakta bahwa krisis sampah tidaklah netral gender. Ia tidak hanya berdampak pada tubuh perempuan, tetapi juga tubuh bumi. 

Fakta yang Tak Bisa Diabaikan Darurat Sampah

Produksi sampah nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi di IndonesiaSistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah mencapai lebih dari 24 juta ton per tahun.

Namun, hanya sekitar 35 persen yang terkelola, sementara sisanya menumpuk di TPA tanpa standar memadai, dibuang ke lingkungan secara terbuka, atau dibakar.

Komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah rumah tangga, terutama sisa makanan. Selain itu, sekitar 75 persen sampah plastik tersebar di perairan Indonesia, baik di laut maupun sungai.

Dampak langsung yang dirasakan dari darurat sampah ini adalah, pencemaran tanah dan air, emisi gas rumah kaca yang diakibatkan oleh pembakaran sampah non-organik dan sampah organik yang tidak terolah, banjir karena saluran air tersumbat yang tersumbat oleh tumpukan sampah.

Lebih lanjut, ancaman kesehatan masyarakat yang mengancam kualitas hidup mereka seperti kualitas udara yang tidak layak serta beban ekologis yang terus menumpuk dan memperparah krisis iklim

Tubuh Perempuan dan Dampak Krisis Sampah 

Krisis sampah tidak berada di ruang hampa, tetapi erat kaitannya dengan relasi kuasa yang memang timpang. Maka dalam konteks tersebut, tubuh perempuan menjadi kelompok yang paling rentan dengan dampak krisis sampah.

Dalam pembagian kerja sosial yang masih bias gender, tidak dapat dipungikir bahwa perempuan paling dekat dengan kerja-kerja perawatan seperti rumah, pangan, kebersihan, dan lingkungan.

Kedekatan inilah yang membuat perempuan bersentuhan langsung dengan sampah, tanpa bisa memilih, melainkan sebagai konsekuensi dari peran yang dilekatkan secara sosial dan kultural.

Ketika sistem pengelolaan sampah gagal, kegagalan itu tidak hanya tercermin pada tumpukan di TPA atau sungai yang tercemar, tetapi juga pada tubuhm dalam hal ini tubuh perempuan yang terus dipaksa beradaptasi.

Paparan plastik, asap pembakaran, air tercemar, dan residu kimia menjadi bagian dari keseharian perempuan, terutama mereka yang hidup di wilayah padat peduduk, pesisir, atau sekitar tempat pembuangan akhir.

Maka, tubuh perempuan menjadi ruang akumulasi risiko gangguan kesehatan, ancaman terhadap fungsi reproduksi, hingga masuknya mikroplastik ke dalam rantai kehidupan melalui ASI.

Dalam skema ekonomi, perempuan kembali berada pada posisi paling rentan. Banyak dari mereka bekerja di sektor informal persampahan memilah, mengumpulkan, mendaur ulang tanpa perlindungan memadai.

Kerja-kerja ini menopang sistem pengelolaan sampah, tetapi nyaris tak pernah diakui sebagai kerja yang berdampak terhadap krisis sampah. Perempuan diposisikan sebagai penyangga krisis ketika negara abai, ketika sistem gagal, tubuh perempuanlah yang diminta menyesuaikan diri.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa krisis sampah bukan sekadar persoalan teknis lingkungan, melainkan cerminan dari cara masyarakat memandang dan memaknai tubuh bekerja, baik tubuh perempuan maupun tubuh bumi.

Secara tidak langsung, logika yang sama bekerja pada keduanya tereksloitasi, terbebani, dan dianggap mampu pulih sendiri tanpa adanya usaha perawatan atau soluis yang serius.

Karena itu, membicarakan darurat sampah tanpa membicarakan perempuan berarti menutup mata terhadap separuh dari realitas dampak krisis yang terjadi. 

Jika tubuh perempuan menanggung beban sosial, budaya, dan kesehatan, maka tubuh bumi menanggung beban ekologis yang semakin parah.

Sampah plastik mencemari laut dan sungai, mikroplastik masuk ke rantai makanan, TPA terbuka menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca paling berbahaya, serta praktik pembakaran sampah terbuka yang menyebabkan polusi udara. 

Hari Peduli Sampah Nasional: Dari Seremoni Menuju Aksi Bersama

Momentum Hari Peduli Sampah Nasional seharusnya menjadi titik balik dari sekadar seremoni menuju aksi kolektif.

Menghadapi darurat sampah tidak cukup dengan imbauan moral semata, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang komprehensif serta melibatkan individu, komunitas, organisasi, dan negara.

Menghadapi darurat sampah, berangkat dari kesadaran paling sederhana dan keberanian untuk terus konsisten di ruang hidup yang paling dekat. Cara kita mengolah sampah di rumah, dari memilah dan mengurangi plastik sekali pakai.

Memilah sampah organik, dan berhenti membakar adalah bentuk paling awal dari etika merawat bumi. Tindakan-tindakan ini mungkin tampak kecil, tetapi di sanalah perubahan mulai menemukan pijakannya.

Kesadaran personal harus bertranformasi menjadi kebijakan kolektif. Di tingkat komunitas dan organisasi, praktik pengelolaan sampah seharusnya tidak lagi bersifat opsional, melainkan menjadi bagian dari kebiasaan.

Ketika pemilahan sampah diterapkan dalam setiap kegiatan, mengurangai penggunaan plastik sekali pakai secara sadar dan mendukung bank sampah serta ruang edukasi pengelolaan sampah. Maka, perubahan tidak terbatas pada niat individu semata.

Hal ini mampu mendukung, kerja-kerja perempuan di sektor informal agar lebih dilihat dan diakui bukan sekadar sebagai strategi bertahan hidup, tetapi sebagai fondasi penting menuju sistem pengelolaan sampah yang adil.

Namun, sejauh apa pun upaya individu dan komunitas bergerak, krisis ini tidak akan terurai tanpa kehadiran negara. Darurat sampah adalah persoalan struktural yang menuntut kebijakan tegas dan berpihak.

Negara perlu memastikan penegakan regulasi terhadap plastik sekali pakai, membangun infrastruktur pengelolaan sampah yang merata, serta melindungi pekerja sektor informal terutama perempuan yang selama ini berada di posisi paling rentan.

Lebih dari itu, perspektif gender harus menjadi bagian dari kebijakan lingkungan dan edukasi publik yang berkelanjutan, agar krisis ini tidak terus-menerus ditanggung oleh tubuh yang sama. Karena Merawat bumi, artinya merawat tubuh kita sendiri.