May Day 2026 : Ketika Gerbong “Itu” Dipenuhi Perempuan Pekerja
May Day selalu kita bayangkan sebagai hari yang bising—penuh orasi, spanduk, dan daftar tuntutan yang berulang. Tapi tahun ini, sebelum satu pun suara itu terdengar, sebuah gerbong KRL di Bekasi Timur sudah lebih dulu “berbicara”. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan apa yang tersisa di dalamnya: tubuh-tubuh perempuan pekerja, dan deretan cooler yang mereka bawa.
Enam belas korban meninggal kebanyakan adalah pekerja perempuan. Di titik ini, tragedi itu tidak bisa lagi dibaca sebagai peristiwa acak. Ia adalah potret dari siapa yang paling sering menanggung risiko dalam sistem kerja kita hari ini.
Cooler-cooler yang ditemukan di gerbong itu mungkin terlihat sepele. Tapi justru di sanalah realitas buruh perempuan terbuka tanpa filter. Cooler berarti bekal dari rumah karena upah tidak cukup untuk membeli makan di luar. Cooler berarti dagangan tambahan karena satu pekerjaan tidak pernah cukup. Cooler berarti ASI yang dibawa dalam diam karena sistem kerja tidak memberi ruang bagi tubuh perempuan untuk tetap menjadi ibu. Cooler adalah simbol bertahan hidup.
Dan ketika benda itu memenuhi satu gerbong, kita seharusnya berhenti sejenak dan bertanya: seperti apa sebenarnya wajah buruh yang selama ini kita perjuangkan?
Selama ini, May Day sering berbicara dalam bahasa yang terlalu umum—upah layak, penghapusan outsourcing, jaminan sosial. Tuntutan-tuntutan itu penting, bahkan mendesak, sebagaimana terus digaungkan dalam berbagai aksi buruh. Tetapi justru karena terlalu umum, ia sering gagal menyentuh pengalaman yang paling konkret.
Kita berbicara tentang “buruh” seolah-olah ia satu kategori yang homogen. Padahal realitasnya tidak demikian. Ada perbedaan yang nyata—dan seringkali ditentukan oleh gender.
Buruh perempuan hidup dalam kerentanan yang berlapis. Mereka bekerja di sektor dengan perlindungan minim, menanggung beban domestik yang tidak pernah dihitung sebagai kerja, dan menghadapi risiko di ruang publik yang tidak pernah benar-benar aman. Tragedi KRL ini menambahkan satu hal yang jarang dibicarakan: bahwa bahkan perjalanan menuju kerja pun adalah ruang risiko.
Kita selama ini memisahkan terlalu jauh antara “kerja” dan “perjalanan menuju kerja”. Seolah-olah perlindungan hanya berlaku ketika seseorang sudah tiba di tempat kerja. Padahal bagi jutaan buruh terutama perempuan perjalanan itu adalah bagian tak terpisahkan dari kerja itu sendiri.
Ketika transportasi publik padat, ketika jam kerja memaksa mobilitas ekstrem, ketika pilihan moda aman tidak tersedia—maka risiko bukan lagi kemungkinan. Ia menjadi kepastian yang menunggu giliran.
Dalam konteks ini, menyebut tragedi tersebut sebagai sekadar kecelakaan terasa terlalu sederhana. Yang kita lihat adalah akumulasi dari kebijakan yang tidak pernah benar-benar terhubung: kebijakan ketenagakerjaan yang tidak mempertimbangkan mobilitas, kebijakan transportasi yang tidak sensitif terhadap beban pekerja, dan pembangunan yang masih menganggap pengalaman perempuan sebagai catatan pinggir.
Gerbong perempuan selama ini sering dipahami sebagai solusi. Sebuah ruang aman di tengah padatnya transportasi publik. Namun tragedi ini justru membalik asumsi itu. Ia menunjukkan bahwa perlindungan yang bersifat simbolik tidak akan pernah cukup jika fondasi sistemnya tetap rapuh.
Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi tidak nyaman: apakah May Day masih relevan jika ia terus berbicara tanpa keberpihakan terhadap perempuan pekerja?
Netralitas dalam konteks ini bukanlah keadilan. Ia justru cara paling halus untuk mengabaikan mereka yang paling rentan. Ketika kita tidak menyebut perempuan secara spesifik, kita sedang menghapus pengalaman mereka dari inti perjuangan.
May Day 2026 seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar untuk mengulang tuntutan, tetapi untuk mengoreksi cara kita melihat buruh itu sendiri. Bahwa buruh bukan angka. Bukan juga kategori abstrak. Mereka punya tubuh, punya ritme hidup, punya beban yang tidak selalu terlihat.
Dan sebagian besar dari mereka seperti yang kita lihat di gerbong itu adalah perempuan yang setiap hari membawa hidupnya dalam sebuah cooler.
Gerbong itu mungkin sudah kosong hari ini. Aktivitas akan kembali normal. Orang-orang akan kembali berangkat kerja, kembali berdesakan, kembali menyesuaikan diri dengan sistem yang sama. Namun jika May Day masih ingin punya makna, maka kita tidak boleh ikut kembali normal. Karena selama perempuan masih harus menegosiasikan keselamatan mereka hanya untuk sampai ke tempat kerja, maka kita belum benar-benar berbicara tentang keadilan. Dan selama itu pula, setiap May Day hanya akan menjadi ritual bukan perubahan.
Rincian 11 Tuntutan Utama May Day 2026:
- Tuntutan penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah (HOSTUM) kembali digaungkan. Buruh menuntut kepastian kerja yang lebih jelas serta sistem pengupahan yang layak dan manusiawi.
- Buruh mendesak pengesahan RUU Ketenagakerjaan yang baru, dengan harapan regulasi tersebut dapat lebih melindungi hak pekerja dan menyeimbangkan relasi antara buruh dan pengusaha.
- Revisi kebijakan pajak juga menjadi sorotan, termasuk dorongan untuk menaikkan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) serta penghapusan pajak terhadap THR, JHT, dan dana pensiun.
- Perlindungan terhadap PHK menjadi perhatian penting, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi mengganggu stabilitas lapangan kerja.
- Buruh menuntut penyelamatan industri nasional, khususnya sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) serta industri nikel, yang dinilai menghadapi tekanan serius.
- Moratorium industri semen turut disuarakan akibat kondisi over supply yang dinilai berdampak pada keberlangsungan industri dan tenaga kerja.
- Penguatan jaminan sosial menjadi tuntutan utama, termasuk reformasi sistem yang lebih adil dan optimal melalui BPJS Ketenagakerjaan.
- Buruh juga mendorong ratifikasi Konvensi ILO 90 sebagai bentuk komitmen terhadap standar ketenagakerjaan internasional.
- Pengesahan RUU Perampasan Aset menjadi bagian dari upaya mendorong tata kelola ekonomi yang lebih bersih dan berkeadilan.
- Peningkatan upah minimum serta penyesuaian tarif bagi pekerja ojek online dinilai penting agar sejalan dengan kenaikan biaya hidup.
- Peningkatan status guru honorer turut menjadi perhatian, sebagai bagian dari perjuangan pekerja sektor pendidikan yang selama ini menghadapi ketidakpastian.
Suara dan Harapan untuk Perubahan
Menanggapi momentum May Day, Cici Arianti menyampaikan bahwa perjuangan buruh harus terus diperjuangkan secara kolektif dan berkelanjutan.“May Day bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum untuk memastikan bahwa setiap pekerja mendapatkan haknya secara adil dan manusiawi. Kesejahteraan buruh harus menjadi prioritas, bukan hanya wacana. Termasuk di dalamnya, perlindungan bagi buruh perempuan yang masih menghadapi tantangan berlapis di dunia kerja. Sudah saatnya kita bergerak bersama menciptakan sistem kerja yang lebih inklusif, aman, dan berkeadilan,” ujarnya.