Women, Peace, and Security : Rahasia Kepemimpinan Perempuan yang Jarang Dibahas

SKKN III KOPRI PB PMII bahas Women, Peace, and Security bersama Ruby Amnfu. Penjelasan yang ditekankan pada feminisme & diplomasi kader perempuan merupakan bekal materi sebagai pondasi dan landasan dalam bergerak.

KOPRI.ID - Pelaksanaan Sekolah Kader Kopri Nasional (SKKN) III yang digelar KOPRI PB PMII pada 20 Februari 2026 di Asrama Haji, Bekasi, menghadirkan perspektif global dalam gerakan perempuan. Salah satu pemateri yang mengisi forum strategis tersebut adalah Ruby Amnfu, Sekretaris Jenderal Asian Muslim Action Network (AMAN).

Mengusung materi bertajuk Women Global Movement, Ruby menekankan pentingnya membaca perjuangan perempuan sebagai bagian dari arus perubahan global, bukan sekadar gerakan lokal yang terfragmentasi. 

Feminisme sebagai Gerakan Global dan Jalan Perubahan

Dalam pemaparannya, feminisme diposisikan bukan hanya sebagai diskursus akademik, melainkan gerakan sosial lintas negara yang mengubah lanskap politik, sosial, dan budaya. Feminisme, menurutnya, adalah kesadaran kolektif yang terorganisir untuk memperjuangkan keadilan struktural bagi perempuan.

“Tanpa feminisme, perubahan terhadap perempuan tidak akan pernah ada,” menjadi refleksi yang menguatkan bahwa transformasi sosial tidak hadir secara alamiah, melainkan melalui perjuangan panjang dan konsisten.

Di Indonesia, ruang afirmasi itu salah satunya diwujudkan melalui KOPRI. Organisasi ini lahir dari kegelisahan atas ketidakadilan gender, sekaligus menjadi ruang aman bagi kader perempuan untuk membangun solidaritas dan kesadaran kritis.

KOPRI dipandang sebagai ruang yang diciptakan perempuan untuk memperjuangkan kepentingan perempuan. Tanpa ruang afirmatif semacam ini, perubahan mungkin terjadi, namun tidak akan merata dan berkeadilan.

Women, Peace, and Security: Kekuatan yang Lembut tapi Tegas

Dalam kerangka Women, Peace, and Security (WPS), perempuan menawarkan model kepemimpinan yang berbeda dari pendekatan maskulin yang identik dengan dominasi atau kekerasan.

Di berbagai konflik sosial, perempuan kerap hadir bukan dengan senjata, melainkan dengan solidaritas dan simbol budaya sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan. Mereka membawa keberanian melalui suara yang tenang, dialog, dan pendekatan persuasif.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu berarti konfrontasi. Perempuan justru sering tampil sebagai peredam ketegangan, pencari solusi, dan penjaga nilai kemanusiaan di tengah krisis.

Pengalaman tersebut secara tidak langsung membongkar stigma lama bahwa peran domestik adalah kelemahan.

Dalam perspektif feminisme, empati, ketahanan, dan daya juang yang tumbuh dari pengalaman keseharian justru menjadi sumber daya strategis ketika dibawa ke ruang publik.

Alasan KOPRI Membutuhkan Sekolah Diplomasi

Perubahan lanskap gerakan perempuan menuntut kapasitas baru. KOPRI tidak lagi cukup hanya menjadi ruang diskusi internal. Kader perempuan kini bersinggungan langsung dengan advokasi kebijakan, jejaring lintas sektor, hingga diplomasi sosial-politik.

“KOPRI butuh sekolah diplomasi karena peran kadernya bukan hanya sebagai aktivis organisasi, tetapi juga sebagai representasi perempuan muda di ruang advokasi dan kebijakan,” demikian ditegaskan dalam refleksi penguatan kapasitas kader.

Sekolah diplomasi dipandang bukan sekadar pelatihan berbicara, melainkan ruang belajar memahami negosiasi, membaca dinamika kekuasaan, serta membangun jejaring strategis.

Militerisme dan Tantangan Demokrasi

Isu militerisme turut menjadi sorotan sebagai tantangan baru gerakan perempuan. Hingga kini, pembahasan mengenai relasi sipil-militer dinilai belum menjadi fokus utama forum-forum KOPRI.

Padahal, dinamika nasional menunjukkan urgensi pembahasan tersebut. Kasus pembungkaman terhadap Laras yang sempat menyuarakan kritik menjadi cermin bahwa ruang demokrasi masih menghadapi tekanan.

Militerisme, dalam konteks ini, bukan hanya soal institusi, tetapi pola relasi kuasa yang berpotensi menyempitkan ruang kritik publik. Tanpa analisis yang memadai, gerakan perempuan berisiko kehilangan pijakan strategis dalam membaca arah kekuasaan.

Dari Ruang Afirmasi Menuju Arena Strategis

Feminisme telah membuktikan diri sebagai energi perubahan global. Namun, gerakan tidak boleh berhenti pada kesadaran identitas. Ia harus bergerak menuju penguatan kapasitas, diplomasi, dan analisis struktural.

Melalui forum seperti SKKN III, Kopri menunjukkan langkah menuju peran yang lebih strategis bukan hanya sebagai ruang afirmasi, tetapi juga sebagai aktor penting dalam isu perdamaian, kebijakan publik, dan demokrasi.

Pada akhirnya, kekuatan perempuan bukan semata soal keberanian bersuara. Ia juga tentang kemampuan mengelola konflik, membangun dialog, serta memperjuangkan keadilan dengan cara yang bermartabat.

Feminisme mengajarkan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk keteguhan yang mampu mengubah arah sejarah.