Feminisme di Dunia Muslim, Bukan Sekadar Simbol dan Ini Strategi Globalnya
“Isu perempuan tidak pernah berdiri sendiri dalam batas-batas negara,” tegas Ibu Safira Machrusah saat membuka diskusi forum Sekolah Kader Kopri Nasional (SKKN) KOPRI PB PMII pada Jum'at (26/11) lalu.
Dalam materi berjudul Gerakan Perempuan Global dalam Masyarakat Muslim, ia menekankan bahwa perjuangan perempuan lahir, berkembang, dan bertransformasi melalui pengalaman sejarah yang saling terkait lintas ruang dan waktu. “Kita harus membaca perjuangan perempuan secara global, interseksional, dan kontekstual,” lanjutnya, menggarisbawahi pentingnya perspektif lintas batas.
Isu perempuan selalu terkait dengan dinamika sejarah, politik, dan sosial yang melampaui batas-batas nasional. Dalam forum SKKN, Safira menyatakan, “Perempuan lahir, berkembang, dan bertransformasi melalui pengalaman lintas waktu dan ruang. Tidak ada perjuangan yang berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan gerakan perempuan di dunia.”
Akar Historis Gerakan Perempuan Global
Menurut Safira, gerakan perempuan global muncul dari kesadaran bahwa isu gender bukan fenomena lokal semata. Ketimpangan, diskriminasi, dan subordinasi gender terjadi di seluruh dunia, meskipun dengan pola yang berbeda. “Struktur kekuasaan patriarkal seringkali serupa di berbagai belahan dunia, meski konteksnya berbeda,” jelasnya.
Perubahan besar dalam sistem politik dunia terutama setelah Perang Dunia I membuka ruang bagi kesadaran politik perempuan. Runtuhnya sistem monarki absolut dan munculnya negara-bangsa modern memungkinkan redefinisi hak-hak warga negara, termasuk perempuan.
Safira mencontohkan revolusi Prancis “Masyarakat menuntut kebebasan dan kesetaraan, tetapi perempuan masih terpinggirkan. Dari situ muncul tuntutan hak pilih perempuan awal dari gerakan feminisme modern.”
Feminisme dan Keterbatasannya
Safira menekankan peran besar feminisme dalam membuka ruang politik perempuan, namun ia juga mengkritik keterbatasannya. “Feminisme arus utama, terutama yang berkembang di Barat, tidak selalu merepresentasikan keragaman pengalaman perempuan secara global,” katanya.
Pendekatan interseksionalitas dalam feminisme Indonesia mengadaptasi gagasan Kimberle Crenshaw dengan menyesuaikan konteks sosial, budaya, dan politik lokal. Dalam perspektif ini, pengalaman perempuan tidak hanya dilihat dari gender, tetapi juga dihubungkan dengan identitas lain seperti kelas sosial, agama, etnis, status ekonomi, pendidikan, dan bahkan posisi geografis.
Pendekatan interseksionalitas muncul sebagai jawaban atas keterbatasan tersebut. Interseksionalitas lahir dari pengalaman perempuan kulit hitam di Amerika Serikat yang menghadapi penindasan berlapis sebagai perempuan, minoritas rasial, dan kelompok ekonomi lemah. “Kekerasan berbasis ras, diskriminasi politik, dan kerentanan sosial menjadi pengalaman yang tidak bisa dipisahkan dari identitas mereka,” jelas Safira.
Interseksionalitas menjadi alat analisis penting untuk memahami bahwa ketidakadilan gender selalu beririsan dengan ras, kelas, agama, dan budaya. “Dalam masyarakat Muslim, perempuan minoritas, baik dari segi sosial maupun struktural, menghadapi tantangan yang kompleks, bahkan di ruang domestik,” tambahnya.
Perspektif Dekolonial dalam Konteks Masyarakat Muslim
Safira menekankan relevansi pendekatan dekolonial dalam membaca pengalaman perempuan Muslim. Dekolonialitas membuka ruang untuk memahami bagaimana wacana imperial dan kolonial membentuk persepsi tentang gender, perempuan, dan Islam. “Banyak narasi tentang ‘perempuan tertindas’ dalam masyarakat Muslim lahir bukan dari realitas internal, tetapi dari konstruksi pengetahuan kolonial yang bias,” jelasnya.
Dengan pendekatan ini, perjuangan perempuan Muslim tidak sekadar mengimpor kerangka feminisme Barat. Sebaliknya, pengalaman lokal harus dibaca dari sumber, sejarah, dan konteks mereka sendiri. “Kita perlu memahami perempuan Muslim secara kontekstual, bukan melalui kacamata kolonial atau Barat semata,” tambah Safira.
Tantangan Gerakan: Sekular, Religius, dan Ruang Kolaborasi
Safira juga menyoroti konflik yang muncul antara gerakan perempuan sekuler dan religius. Meski sering bekerja sama dalam isu dasar seperti Hak Asasi Manusia (HAM), ketegangan terjadi ketika HAM universal dikaitkan dengan hukum Islam lokal yang sensitif.
Menurut Safira, kunci keberhasilan gerakan perempuan adalah kemampuan menjembatani nilai-nilai universal dengan konteks lokal tanpa saling meniadakan. “Konflik ini bukan untuk dihindari, tetapi harus dikelola secara kritis dan dialogis,” tegasnya.
Praktik Strategis: Feminisme, Interseksionalitas, dan Dekolonialitas
Dalam penjelasannya, Safira menegaskan bahwa feminisme, interseksionalitas, dan dekolonialitas bukan konsep yang bertentangan, melainkan alat analisis yang saling melengkapi. Ketiganya memungkinkan gerakan perempuan global untuk:
-
Memahami pengalaman perempuan lintas identitas.
-
Menjawab ketidakadilan struktural, rasial, dan sosial.
-
Membaca konteks lokal tanpa kehilangan perspektif global.
“Tantangan ke depan bukan hanya memperjuangkan hak perempuan, tetapi memastikan perjuangan itu benar-benar menjawab pengalaman hidup mereka di berbagai konteks sosial,” jelasnya.
SKKN sebagai Ruang Strategis Kader Perempuan
Forum Sekolah Kader Kopri Nasional (SKKN) menjadi ruang strategis untuk melahirkan kader perempuan yang tidak hanya militan secara gerakan, tetapi juga tajam secara pemikiran. Safira menambahkan, “Kader yang mampu berpikir kritis, memahami konteks sosial, dan menggerakkan perubahan nyata adalah kunci membangun gerakan perempuan yang berkelanjutan.”
Dengan perspektif global, interseksional, dan dekolonial, SKKN berupaya menyiapkan perempuan Muslim yang mampu menghadapi tantangan zaman, berkolaborasi lintas ideologi, dan tetap setia pada akar budaya dan sejarah mereka.
Gerakan perempuan global dalam masyarakat Muslim menuntut keberanian berpikir lintas batas, tanpa tercerabut dari akar sejarah. Feminisme, interseksionalitas, dan dekolonialitas adalah alat penting untuk memastikan bahwa perjuangan perempuan bukan sekadar retorika, tetapi benar-benar menjawab pengalaman hidup mereka. Forum seperti SKKN menjadi laboratorium penting untuk menyiapkan kader yang militan, kritis, dan berdaya secara sosial.