Geopolitik Global dan Gerakan Perempuan, Ini Pesan Strategis Gus Abe untuk KOPRI

KOPRI.ID - Dunia tidak pernah benar-benar bergerak dalam keadaan damai. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar dalam tatanan global hampir selalu lahir dari konflik, perebutan pengaruh, dan kepentingan ekonomi-politik antarnegara. Realitas inilah yang menjadi dasar pembahasan Materi 4 Sekolah Kader Kopri Nasional PB PMII, bertajuk “Geoekonomi, Politik, dan Gerakan Perempuan”, yang disampaikan oleh H. Muhammad Abdullah Syukri di Asrama Haji Bekasi, 25–29 November 2025.

Materi ini tidak sekadar mengulas teori geopolitik dan geoekonomi, tetapi mengajak kader Kopri membaca arah dunia secara kritis serta menempatkan gerakan perempuan dalam konteks perubahan global yang semakin kompleks.

Globalisasi dan Dampaknya terhadap Indonesia

Abdullah Syukri atau sapaan akrab Gus Abe menegaskan bahwa globalisasi harus dipahami sebagai sistem yang membentuk relasi kuasa antarnegara, bukan hanya arus perdagangan atau pertukaran informasi.

Isu global mulai dari konflik regional, krisis energi, hingga persaingan ekonomi secara langsung memengaruhi kondisi domestik Indonesia.

“Penting bagi kita mengetahui isu global yang berpengaruh terhadap kondisi Indonesia,” ujarnya.

Dalam konteks ini, kader perempuan dituntut tidak bersikap reaktif, tetapi memiliki kesadaran struktural terhadap bagaimana keputusan global dapat berdampak pada kehidupan masyarakat akar rumput, terutama perempuan.

Relasi Timbal Balik Geopolitik dan Geoekonomi

Materi ini menekankan bahwa geopolitik dan geoekonomi merupakan dua bidang yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Geopolitik mempelajari bagaimana faktor geografis wilayah, letak strategis, sumber daya alam mempengaruhi kebijakan dan kekuatan politik suatu negara.

Sementara itu, geoekonomi menunjukkan bahwa keputusan politik yang dilandasi kepentingan geografis akan berdampak langsung pada kepentingan ekonomi. Penguasaan jalur perdagangan, energi, dan wilayah strategis menjadi alat utama dalam mempertahankan dominasi global.

Kondisi ini menjelaskan mengapa konflik internasional sering kali berakar pada kepentingan ekonomi, meski dibungkus dengan narasi ideologi atau keamanan.

Pelajaran Sejarah: Perang Dunia II dan Dominasi Barat

Dalam pembahasan sejarah Perang Dunia II, Gus Abe mencoba menguraikan bersama para peserta tentang bagaimana perang tersebut menjadi titik balik dominasi Barat dalam membentuk tatanan dunia. Lembaga internasional, sistem politik global, hingga konsep demokrasi modern lahir dari situasi pascaperang.

Namun, dunia pasca Perang Dunia II tidak sepenuhnya ideal. Ia lahir dari kekerasan, ketimpangan, dan trauma global.

“Dunia hari ini adalah hasil dari tatanan pasca Perang Dunia II atau bisa dikatakan lahir dari demokrasi yang sakit, karena semua berangkat dari perang,” jelasnya.

Pandangan ini penting untuk dipahami agar kader Kopri tidak memandang sistem global secara ahistoris, tetapi sebagai hasil kompromi dan konflik kekuasaan.

Dunia yang Terus Bergerak Menuju Ketidakpastian

Isu Perang Dunia III kembali mencuat dalam diskursus global. Menurut Gus Abe, hampir semua negara saat ini memperkuat sistem keamanannya. Dunia bergerak ke arah ketegangan baru, meski perang besar belum tentu terjadi dalam waktu dekat.

“Semua perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai dari perang,” tegasnya.

Pernyataan ini bukan untuk menormalisasi konflik, tetapi sebagai peringatan bahwa stabilitas global adalah sesuatu yang rapuh dan mudah berubah.

Politik Bebas Aktif: Posisi Strategis Indonesia

Di tengah tarik-menarik kepentingan global, Indonesia memilih politik luar negeri bebas aktif sebagai jalan tengah. Tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun, namun tetap berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia.

Menurut Gus Abe sapaan akrabnya, posisi ini menempatkan Indonesia pada zona relatif aman, namun tetap memerlukan kewaspadaan dan kecermatan membaca arah geopolitik global. Kesalahan membaca situasi dapat berdampak serius pada stabilitas nasional.

Gerakan Perempuan dalam Lanskap Global

Bagian terpenting dari materi ini adalah penegasan bahwa gerakan perempuan tidak boleh dilepaskan dari analisis geopolitik dan geoekonomi. Perempuan sering menjadi kelompok yang paling terdampak dalam situasi krisis baik perang, konflik politik, maupun krisis ekonomi.

Oleh karena itu, kader Kopri dituntut memiliki pemahaman global agar gerakan perempuan tidak hanya bersifat moral, tetapi juga strategis dan kontekstual.

Gerakan perempuan harus mampu:

1. Membaca struktur kekuasaan global

2. Mengkritisi kebijakan yang berdampak pada perempuan

3. Mengambil peran dalam agenda perdamaian dan keadilan sosial

Sekolah Kader Kopri sebagai Ruang Kesadaran Global

Melalui Sekolah Kader Kopri Nasional, KOPRI PB PMII berupaya membangun kader perempuan yang memiliki daya analisis, kesadaran politik, dan keberanian bersikap. Materi geopolitik dan geoekonomi ini menjadi fondasi penting agar gerakan KOPRI tidak terjebak pada isu lokal semata, tetapi mampu merespons dinamika global.

Sebagai pengayaan, peserta juga diarahkan untuk menonton dokumenter Perang Dunia II di kanal YouTube Graymovi sebagai refleksi historis atas kondisi dunia hari ini.

Di tengah dunia yang terus bergerak menuju ketidakpastian, kader Kopri diharapkan hadir sebagai perempuan berpengetahuan, berdaya, dan siap mengambil peran strategis bagi bangsa dan kemanusiaan.