Ini Tahapan Community Organizing yang Bikin Gerakan Tak Mudah Redup
KOPRI.ID - Community Organizing (CO) bukan sekadar metode pendampingan masyarakat, melainkan sebuah proses strategis untuk membangun kesadaran kolektif agar warga mampu mengenali masalahnya sendiri dan bergerak bersama melakukan perubahan. Hal tersebut disampaikan oleh Agus Herlambang dalam pemaparan materi Community Organizing pada forum Sekolah Kader Kopri Nasional, 26 November 2025.
Dalam penjelasannya, Agus menegaskan bahwa Community Organizing merupakan salah satu keterampilan wajib yang harus dimiliki oleh warga pergerakan. Community Organizing menjadi fondasi penting dalam dunia gerakan sosial karena menempatkan masyarakat sebagai subjek utama perubahan, bukan sekadar objek program.
Agus Herlambang menjelaskan bahwa dalam praktik gerakan sosial, terdapat dua pendekatan yang kerap digunakan, yakni Community Organizing (CO) dan Community Development (CD). Perbedaan mendasar keduanya terletak pada metode dan paradigma kerja.
Pada pendekatan Community Organizing, perubahan dimulai dari kesadaran dan inisiatif warga. Masyarakat didorong untuk memahami persoalan yang mereka hadapi, merumuskan tuntutan, serta mengorganisasi diri untuk mencari solusi secara kolektif.
Sebaliknya, Community Development lebih menitikberatkan pada program dan intervensi dari luar, seperti pembangunan infrastruktur, pemberian bantuan, atau pelaksanaan program sosial. Dalam Community Development, solusi sering kali datang dari pemerintah atau lembaga tertentu.
“Kalau development, solusinya atas segala persoalan sering dianggap datang dari pemerintah. Sedangkan dalam Community Organizing, solusinya harus lahir dari korban atau masyarakat itu sendiri dengan pendampingan,” jelas Agus.
Ia juga menekankan bahwa dalam Community Development, pelaku sering diposisikan sebagai “pahlawan”. Sementara dalam Community Organizing, pendamping hadir sebagai kawan seperjalanan, dengan peran utama sebagai pendengar yang baik dan fasilitator proses.
Lebih lanjut, Agus menggarisbawahi pentingnya paradigma gerakan dalam Community Organizing. Output dari proses Community Organizing bukan hanya penyelesaian masalah jangka pendek, melainkan terbentuknya cara berpikir kritis masyarakat terhadap persoalan yang mereka hadapi.
Paradigma ini menuntut fokus pada isu gerakan yang jelas, sehingga setiap langkah yang diambil memiliki arah dan tujuan perubahan yang tegas.
Tahapan dalam Community Organizing
Dalam paparannya, Agus Herlambang memaparkan empat langkah utama dalam proses Community Organizing, yaitu:
-
Menentukan isu gerakan, yakni persoalan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
-
Mapping area, untuk memahami kondisi sosial, aktor, serta potensi dan tantangan di wilayah sasaran.
-
Turun lapangan sebagai fasilitator, dengan membangun relasi dan kepercayaan bersama warga.
-
Penawaran solusi, yang dirumuskan dan dijalankan bersama masyarakat sebagai subjek perubahan.
Keempat tahapan ini harus dijalankan secara berkesinambungan dan partisipatif agar proses pengorganisasian berjalan efektif.
Agus juga menekankan bahwa setiap organisasi pergerakan termasuk KOPRI yang perlu memiliki corak Community Organizing yang khas. Perumusan pendekatan yang kontekstual dan sesuai dengan nilai organisasi menjadi pembeda penting dari organisasi lainnya.
Menurutnya, keberhasilan Community Organizing tidak diukur dari seberapa banyak program yang dijalankan, melainkan dari siapa yang menggerakkan perubahan.
“Community Organizing dikatakan berhasil ketika yang bergerak adalah masyarakat itu sendiri sebagai subjek,” pungkasnya.
Melalui pendekatan ini, Community Organizing diharapkan mampu melahirkan gerakan yang berkelanjutan, berakar kuat di masyarakat, serta mendorong perubahan sosial yang adil dan partisipatif.**