Islam Nusantara dan NU: Sejarah, Identitas, dan Arah Perjuangan
KOPRI.ID - Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan hasil dari perjalanan sejarah panjang Islam yang berakar kuat pada tradisi, budaya, dan perjuangan bangsa Indonesia. Hal ini menjadi salah satu materi penting dalam Sekolah Kader KOPRI Nasional yang digelar di Asrama Haji Bekasi, 25–29 November 2025, melalui kajian Historiografi NU.
Materi tersebut menegaskan bahwa lahirnya NU tidak bisa dilepaskan dari dinamika sejarah Islam global dan lokal yang saling berkelindan.
Sejarah Islam dan Nusantara
Garis waktu sejarah Islam dimulai sejak 571 M, kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada abad ke-7, Nabi menerima wahyu dan diangkat sebagai Rasul di tengah masyarakat Arab yang masih berada dalam masa jahiliyyah.
Pada periode yang sama, wilayah Nusantara telah dihuni oleh berbagai kerajaan besar. Fakta ini menunjukkan bahwa Islam hadir di Nusantara bukan dalam ruang kosong, melainkan berdialog dengan peradaban yang sudah mapan.
Islam mulai berkembang pesat di Nusantara pada abad ke-13 hingga 14, terutama melalui jalur barat seperti Aceh dan kawasan Melayu. Para dai, termasuk Walisongo periode kedua, menyebarkan Islam dengan pendekatan damai, mengedepankan akulturasi dan asimilasi budaya.
Model dakwah ini menjadi fondasi lahirnya konsep Islam Nusantara yang ramah, moderat, dan kontekstual.
Islam Nusantara berakar kuat pada ajaran Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja). Nilai-nilai Aswaja dipandang konsisten sejak masa Rasulullah SAW dan menjadi pedoman utama NU dalam menjaga keseimbangan antara teks, tradisi, dan realitas sosial.
Runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani melahirkan perubahan besar dalam dunia Islam. Di Timur Tengah, muncul Kerajaan Saudi dengan ajaran Wahabi yang berkembang pesat.
Dalam konteks inilah, para ulama Nusantara mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926 sebagai benteng ajaran Aswaja dan pusat dakwah Islam moderat.
NU lahir di tengah penjajahan Belanda. Sejak awal, NU tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga membangkitkan semangat nasionalisme santri. Spirit cinta tanah air diwujudkan melalui berbagai gerakan, salah satunya Syubbanul Wathan.
Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, semangat perlawanan semakin menguat dan terefleksi dalam tradisi keagamaan seperti Sholawat Asghil.
NU menerima Pancasila sebagai dasar negara yang final. Sikap ini menunjukkan komitmen NU dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa mempertentangkannya dengan ajaran Islam.
Tiga Dimensi NU
NU bergerak dalam tiga dimensi utama:
1. Jam’iyyah (organisasi), menghadapi tantangan sejarah seperti Komite Hijaz dan Resolusi Jihad.
2. Jam’iyyah Diniyyah, sebagai penjaga tradisi keislaman.
3. Jam’iyyah Ijtimaiyyah, berperan aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Landasan dan Roadmap Perjuangan
Gerak NU ditopang oleh tiga unsur utama: ideologi, semangat (spirit), dan pemikiran (fikrah). Tujuan utamanya adalah pengabdian dan pelayanan kepada umat.
Agenda kerja NU disusun secara bertahap mulai dari ideologisasi dan kaderisasi, penguatan struktur, pemetaan program, pelaksanaan agenda, hingga pengembangan jejaring dan kolaborasi.
Melalui pemahaman historiografi NU, kader diharapkan tidak hanya mengenal sejarah, tetapi juga mampu melanjutkan perjuangan NU secara kontekstual di era modern.