Ketika Algoritma Mengatur Hidup, Masihkah Kita Benar-Benar Merdeka?

KOPRI.ID - Dunia hari ini tidak lagi seluas perjalanan kaki, tidak pula sepanjang gelombang radio. Dunia kini berada dalam satu sentuhan layar.

Hanya dengan menggerakkan ibu jari, seseorang bisa masuk ke dalam perpustakaan dunia, menyaksikan perang di belahan bumi lain, mengirim puisi kepada ribuan orang yang belum pernah ia temui.

Di sinilah, kemajuan media dan digitalisasi telah membongkar batas-batas lama, dan menciptakan ruang baru bagi manusia untuk mendalami dunia, cepat dan tak terbatas.

"Kita tidak lagi sekadar menggunakan media digital, kita hidup di dalamnya. Dari algoritma yang mengatur pilihan hingga layar yang menciptakan identitas, era digital bukan hanya memediasi realitas, tetapi membentuknya."

Awalnya, digitalisasi tampak seperti alat bantu, seperti komputer menggantikan mesin ketik dan internet menggantikan perpustakaan. Namun hari ini, digital bukan lagi sekadar alat, namun ia telah menjadi atmosfer.

Kita tidak lagi hanya menggunakan media digital, kita hidup di dalamnya. Kehadiran media sosial, kecerdasan buatan, dan algoritma kini membentuk ritme hidup sehari-hari, dari cara kita berpikir, mencinta, hingga memutuskan pilihan politik.

Media tidak lagi hanya memediasi realitas, tapi membentuknya. Sebuah berita yang viral bisa menciptakan kepanikan nasional, sebuah unggahan bisa melahirkan revolusi. Kita hidup di tengah arus informasi yang tak mengenal hulu dan hilir, di mana fakta dan fiksi berdansa tanpa batas.

Jean Baudrillard pernah mengatakan bahwa masyarakat postmodern hidup dalam simulacra, realitas palsu yang meniru realitas, hingga batas antara keduanya kabur. Dalam dunia digital, kita tidak hanya melihat diri kita di cermin, kita membangun versi digital dari diri sendiri, supaya terlihat lebih indah, lebih sukses, lebih sempurna. Kita menjadi kurator eksistensi, bukan sekadar pelaku hidup.

Ini bukan hanya ilusi narsisme, tetapi tekanan eksistensial. Ketika semua orang tampak bahagia di layar, kita pun merasa harus bahagia. Ketika semua orang produktif, kita pun merasa tertinggal. Maka lahirlah kelelahan yang tak terlihat atau dalam kata lain digital fatigue, kesepian dalam keramaian, dan kecemasan yang tak jelas.

Banyak yang menyebut era digital sebagai era kebebasan. Siapapun bisa bersuara, siapapun bisa mencipta, tapi kita juga harus bertanya, sejauh mana kebebasan ini sungguh bebas?

Algoritma tidak netral! Platform-platform raksasa menentukan apa yang kita lihat, siapa yang muncul di linimasa, dan apa yang menjadi "tren". Kita hidup dalam ekosistem yang dikendalikan oleh logika kapitalisme data, di mana perhatian adalah komoditas, dan emosi adalah produk yang diperdagangkan.

Namun jangan salah, di balik kecemasan ini, tersimpan peluang yang tak ternilai. Digitalisasi memungkinkan seorang siswa di pelosok Papua mengakses kuliah dari Harvard. Seorang ibu rumah tangga bisa membangun toko daring dari ruang tamunya. Seorang aktivis bisa menyuarakan kebenaran dari tempat yang tak terjangkau oleh media arus utama.

Digitalisasi memberi kekuatan kepada suara-suara yang dulu dibungkam. Ia melahirkan jurnalisme warga, gerakan sosial, dan solidaritas digital lintas bangsa dan agama. Ia juga menjadi ruang perjumpaan baru antara ilmu dan iman, antara tradisi dan inovasi.

Yang dibutuhkan adalah tafsir baru atas kemajuan ini, bukan sekadar kagum pada teknologi, tetapi sadar pada arah. Bukan sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi pembentuk makna.

Di tengah derasnya laju kemajuan ini, pertanyaan paling mendasar tetap sama yaitu bagaimana kita tetap menjadi manusia?

Menjadi manusia di era digital bukan berarti menolak teknologi, tetapi menggunakannya dengan kesadaran etis. Bukan menyerah pada algoritma, tapi merdeka dalam berpikir.

Bukan sekadar terhubung, tapi sungguh-sungguh hadir. Karena pada akhirnya, kemajuan media dan digitalisasi bukan soal kecanggihan mesin, tapi tentang siapa yang kita pilih untuk menjadi rolmodel, di tengah dunia yang terus berubah. 

Penulis: N.Youstika Fauziah M (Kader KOPRI Kota Sukabumi)