KOPRI Eco Movement dalam Perspektif Aswaja
Redaksi KOPRI.ID - Gelombang kepedulian publik terhadap krisis lingkungan kembali menguat pasca bencana alam yang terjadi di Sumatera dan Aceh. Salah satu penandanya adalah munculnya berbagai inisiatif warga, termasuk gerakan patungan membeli hutan yang digagas Pandawara Group. Gerakan ini menunjukkan bahwa masyarakat sipil mulai resah terhadap arah pembangunan yang kerap mengabaikan keberlanjutan ekologis.
Isu lingkungan bukanlah tren sesaat yang muncul karena viralitas media sosial. Ia adalah bagian dari agenda panjang perjuangan ideologis yang berpijak pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) nilai yang memandang alam sebagai amanah, bukan komoditas semata.
Sejak awal, KOPRI melihat bahwa krisis ekologi selalu berkelindan dengan krisis kemanusiaan. Kerusakan alam tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu berdampak pada ketimpangan sosial, memperbesar kerentanan kelompok marginal, dan menghadirkan beban berlapis bagi perempuan serta anak-anak. Karena itu, KOPRI eco Movement hadir bukan hanya sebagai kampanye hijau, melainkan sebagai gerakan kemanusiaan dan keadilan sosial.
Dalam tradisi Aswaja, manusia ditempatkan sebagai khalifah fil ardh penjaga bumi yang bertugas merawat keseimbangan ciptaan Tuhan. Alam adalah titipan, dan setiap tindakan eksploitatif yang melampaui batas pada akhirnya akan kembali menjadi mudarat bagi manusia itu sendiri.
Krisis Ekologi adalah Krisis Kemanusiaan
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatra kembali menegaskan satu fakta penting dimana ketika hutan rusak, manusialah yang pertama kali menanggung akibatnya. Perempuan, anak-anak, masyarakat adat, dan kelompok miskin menjadi pihak yang paling terdampak kehilangan ruang hidup, sumber air, hingga rasa aman.
Dalam perspektif Aswaja, kondisi ini mencerminkan runtuhnya prinsip tawazun (keseimbangan) dan tawasuth (moderasi) dalam pembangunan. Ketika kebijakan ekonomi berjalan tanpa etika ekologis, yang lahir bukan kemajuan, melainkan zulm ketidakadilan struktural yang melampaui batas kemanusiaan.
Di titik inilah KOPRI memandang isu lingkungan sebagai isu keadilan gender dan sosial. Kerusakan alam tidak pernah netral. Ia selalu menciptakan korban, dan sering kali korbannya adalah mereka yang paling sedikit dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
KOPRI Eco Movement Merawat Alam, Merawat Kehidupan
Gerakan eco movement yang digagas KOPRI PB PMII bertolak dari keyakinan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah sosial. Aksi penanaman pohon, pendidikan lingkungan, kampanye keadilan ekologis, hingga penguatan kesadaran kader tentang krisis iklim merupakan ikhtiar nyata untuk menghadirkan nilai rahmatan lil ‘alamin dalam ruang praksis.
Dalam konteks ini, inisiatif patungan membeli hutan dapat dibaca sebagai ekspresi ta’awun (saling menolong) ala masyarakat sipil. Ia mencerminkan kesadaran kolektif bahwa hutan bukan sekadar aset ekonomi, melainkan ruang hidup bersama yang harus dijaga.
Namun KOPRI PMII menegaskan bahwa solidaritas warga tidak boleh menjadi pengganti tanggung jawab struktural negara. Eco movement KOPRI justru diarahkan untuk mendorong negara agar lebih berani menghadirkan kebijakan pembangunan yang adil secara ekologis, bukan hanya responsif ketika bencana sudah terjadi.
Perempuan dan Etika Perawatan
Sebagai organisasi perempuan, KOPRI membawa perspektif ethics of care etika perawatan dalam gerakan ekologinya. Alam tidak diposisikan sebagai objek yang boleh dieksploitasi sesuka hati, melainkan sebagai sesuatu yang dirawat, dijaga, dan diwariskan lintas generasi.
Nilai ini sejalan dengan Aswaja yang menekankan hikmah, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral. Menanam pohon, menjaga hutan, dan melindungi sumber daya alam bukan sekadar tindakan simbolik, tetapi bentuk keberpihakan pada masa depan kehidupan.
Bagi KOPRI, menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan menjaga anak-anak dari ancaman bencana, menjaga perempuan dari beban berlapis akibat krisis, dan menjaga masyarakat dari ketidakadilan struktural yang terus berulang.
Meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan harus dibaca sebagai tanda zaman bahwa model pembangunan lama semakin dipertanyakan. Namun perubahan sejati tidak akan lahir hanya dari kesadaran sesaat. Ia membutuhkan nilai, keberlanjutan, dan keberanian politik.
Dalam pandangan nilai dan prinsip yang dibawa oleh KOPRI PMII, eco movement berbasis Aswaja adalah jalan untuk merawat keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Menjaga hutan bukan sekadar menyelamatkan pepohonan, tetapi menjaga amanah kehidupan.
Ketika perempuan bergerak, nilai Aswaja dihidupkan, dan alam dirawat bersama, di sanalah harapan akan Indonesia yang adil secara sosial, ekologis, dan spiritual dapat benar-benar tumbuh.