PBNU: Nilai Perjuangan Pendiri NU Relevan Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Mulia

KOPRI.ID - Pengurus KOPRI PB PMII menghadiri kegiatan Khatmil Qur’an dan Istighosah yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-100, pada Senin, 16 Rajab 1447 H atau 5 Januari 2025.

Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus penguatan komitmen kebangsaan Nahdlatul Ulama dalam mengawal perjalanan Indonesia Merdeka menuju peradaban yang mulia. Spirit ini sejalan dengan tema besar Harlah NU ke-100, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” yang tetap relevan sebagai arah perjuangan NU lintas zaman.

Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran pengurus NU, para kiai, santri, serta warga Nahdliyin. Doa bersama dipanjatkan sebagai ikhtiar batin agar NU senantiasa diberi kekuatan dalam menjaga keutuhan bangsa, merawat nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah dinamika global.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PBNU Kiai Yahya Cholil Staquf mengingatkan kembali napak tilas perjalanan spiritual pendiri NU melalui kisah Kiai As’ad Syamsul Arifin yang membawa tongkat dan tasbih sebagai isyarah dari Syekhina Kiai Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan kepada Hadratussyekh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Perjalanan panjang dari Bangkalan hingga Jombang itu menjadi simbol kesungguhan, keikhlasan, dan visi peradaban para pendiri NU dalam merawat agama dan bangsa.

Ketua Umum PBNU menegaskan bahwa isyarah yang diwariskan para pendiri NU tidak terlepas dari ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi pedoman khidmah jam’iyyah. Nilai-nilai tersebut menjadi kompas NU dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus memperkuat peran NU dalam mengawal Indonesia Merdeka agar tetap berada di jalur kemaslahatan.

“NU tidak perlu gentar menghadapi berbagai tantangan, ancaman, dan rintangan. Sudah menjadi sunnatullah bahwa cahaya Allah selalu ada yang ingin dipadamkan,” ujarnya seraya mengutip ayat, “yuriduna liyuthfi’u nurallahi bi-afwahihim, wallahu mutimmu nurihî walau karihal kafirun”.

Pesan tersebut menegaskan posisi NU sebagai penjaga moral bangsa dan benteng nilai keislaman moderat dalam merawat kemerdekaan Indonesia.

Lebih lanjut, simbol tongkat barokah NU dimaknai sebagai harapan lahirnya sumber-sumber kemaslahatan bagi jam’iyyah, warga NU, bangsa Indonesia, hingga seluruh umat manusia. Mengutip kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an tentang tongkat yang memancarkan mata air, Ketua Umum PBNU berharap tongkat barokah NU mampu menjadi metafora ikhtiar kolektif NU dalam membuka jalan kesejahteraan dan keadilan sosial.

“Kita memohon kepada Allah SWT, semoga barokah Nahdlatul Ulama benar-benar menjadi sumber kemaslahatan bagi seluruh umat manusia,” tuturnya.

Kehadiran KOPRI PB PMII dalam kegiatan ini menegaskan peran strategis kader perempuan NU dalam melanjutkan estafet perjuangan jam’iyyah. Sejalan dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”, KOPRI PB PMII berkomitmen untuk terus berkhidmah dalam penguatan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, berkeadaban, dan bermartabat.**