Untukmu yang Tak Pernah Lelah Menghidupkan Dunia
Oleh: Athiyah ( Ketua Bidang Media, Komunikasi dan Informasi KOPRI PB PMII Masa Khidmat 2024-2027)
Beberapa tahun terakhir, setiap hari Ibu, aku selalu menulis tentang “Mother’s Day is Not Mother’s Day”. Narasi-narasi yang aku tulis memiliki tujuan sama, bahwa setiap tanggal 22 Desember yang diperingati sebagai Hari Ibu, bukanlah untuk merayakan keberadaan perempuan saat menjadi seorang Ibu, akan tetapi sebagai titik awal perjuangan perempuan di Indonesia.
Aku tidak akan menulis panjang tentang bagaimana sejarah panjang tersebut, sebab kamu akan menemukannya di setiap kecerdasan buatan yang terkadang lebih cepat dari otak manusia itu. Apa yang ingin aku tulis adalah tentang, menjadi perempuan dengan kesadaran utuh bahwa sejak awal dilahirkan ke Bumi memiliki tugas yang pasti menjaga dan merawat semesta.
Teringat saat awal kali belajar gender dan feminisme, tentang asal muasal pandangan gender dan keberpihakan perempuan. Saat itu rasanya hidup terus berada di mode survival, sampai rasanya lupa bertanya pada diri sendiri “apakah hari ini kamu ingat bahwa kamu adalah perempuan?”.
Tahun-tahun berlalu dan setiap teori dari Gender dan Feminisme mengajarkan bahwa “sejak lahir, perempuan sudah mendapatkan ketidakadilan”.
Namun setiap yang ada di dunia ini tidak pernah ada yang pasti, termasuk cara pandang. Cara pandang yang berakar dari gender dan feminisme itu sedikit bergeser namun tidak berubah, tapi menemukan nyawa untuk hidup seorang perempuan dari kelas menengah ini, sejak membaca sebuah buku “The Tao of Islam”. Nyawa itu adalah “Perempuan lahir untuk menjaga dan merawat peradaban”, bukan sebuah beban ganda, juga bukan sebuah hal yang berlebihan.
Pandangan psikoanalisis mengajarkan bahwa penyebab perempuan berbeda dari lelaki bukan sekedar dari segi psikis tapi pengalaman tubuh mereka yang berbeda dari lelaki.
Sejarah peradaban manusia juga mencatat, bahwa mulanya tugas perempuan adalah meramu. Sedangkan Islam, selalu menempatkan perempuan pada derajat yang setara, bahwa Rahim ada dalam diri perempuan dan awal mula peradaban ada di sana.
Apa yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah, konotasi menjaga dan merawat peradaban tidak berbatas pada menjaga hal privat dan merawat domestik, tapi dalam setiap riuhnya dunia, harus ada perempuan di sana. Maka perayaan Hari Ibu di Indonesia bukan hanya bagi perempuan yang telah diberikan kesempatan untuk melahirkan secara biologis, tetapi kepada siapapun yang telah melahirkan dan menjaga keberlanjutan semesta.
Maka, anggaplah tulisan ini sebagai jeda teduh di tengah riuhnya kepalamu. Sebuah pelukan hangat bagi jiwamu yang tak pernah lelah memberi napas bagi dunia. Di hari ini, izinkan dirimu berterima kasih pada tubuh dan batinmu sendiri. Terima kasih sudah ada, terima kasih sudah berjuang merawat kehidupan.